DAFTAR ISI
A.
Latar
Belakang
Sumberdaya alam merupakan
anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada manusia untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Sumberdaya alam mempunyai peranan penting bagi kebutuhan
masyarakat, karena hutan memberi manfat baik berupa produk hasil hutan yang
nyata (tangible) seperti kayu dan
rotan, maupun produk hasil hutan yang tidak nyata (intangible) antara lain pengaturan tata air dan wisata alam,
(Darusman et al 1982).
Pariwisata kini menjadi salah satu sektor yang diandalkan
oleh pemerintah untuk dikembangkan sebagai upaya meningkatkan devisa negara dan
mencari terobosan di sektor non
migas. Sektor pariwisata, Indonesia cukup potensial karena mempunyai kekayaan
obyek wisata dengan berbagai jenisnya serta ditunjang oleh keindahan alam dan
keanekaragaman budaya. berbagai potensi yang disajikan pada kawasan taman
wisata alam di Indonesia merupakan pemikat para wisatawan dalam dan luar
negeri.
Taman wisata alam menurut
Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservai Sumber Daya Alam hayati dan
Ekositemnya adalah kawasan
pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
Gunung tangkuban
perahu merupakan tempat terselengarakannya kegiatan wisata. potensi wisata yang
ada di lokasi tersebut merupakan daya tarik tersendiri dibandingkan tempat
wisata lainnya di jawa barat. Tampilan yang disuguhkan berupa kawah belerang
sebagai ciri khas tersendiri.
B.
Tujuan
Mengidentifikasi
Potensi Wisata di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu
A.
Sejarah
dan Status Kawasan
Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu telah dikunjungi wisatawan sejak
1713. Pengelolan Wisata Gunung Tangkuban Parahu pertama kali ditangani oleh
perkumpulan swata Belanda Vereneging Bandoeng Voruit. Pada tahun 1927
perkumpulan ini membuat jalan dari kaki gunung menuju kawah. Pada tahun 1950,
perkumpulan swasta Belanda Vereneging Bandoeng Voruit berubah nama menjadi
Perhimpunan Bandung Permai, dan pada 1974 berubah nama lagi menjadi Yayasan
Bandung Permai. Sejak sat itu Yayasan Bandung Permai mengusahakan sebagian dari
kawasan hutan tutupan Gunung Tangkuban Parahu sebagai objek wisata. Untuk optimalisasi
dan pengembangan pengusahan wisata kawasan hutan tutupan Gunung Tangkuban
Parahu, Yayasan Bandung Permai bekerja sama dengan PT. Sari Ekspres membentuk
PT. Permai Sari pada tahun 1974 (BBKSDA 209).
Pada
tahun yang sama, kompleks hutan tutupan Gunung Tangkuban Parahu ditunjuk
sebagai Taman Wisata Alam seluas 370 ha dan Cagar Alam seluas 1.290 ha
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.528/Kpts/Um/9/1974 tangal 3
September 1974. Sebagai upaya meningkatkan pengembangan fungsi kawasan Taman Wisata
Alam Kawah Gunung Tangkuban Parahu, berdasarkan Surat Keputusan Direktur
Jenderal Kehutanan No. 13/Kpts/DJ/I/1980 tangal 14 Juli 1980, pengelolan
kawasan hutan wisata ini diserahkan kepada Perum Perhutani. Pada tahun 1989
terbit Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 687/Kpts-I/1989 tangal 15
Nopember 1989 tentang Pengusahan Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya
dan Taman Wisata Laut yang kemudian dilakukan penyesuaian penyerahan pengelolan
menjadi Hak Pengeusahan Hutan Wisata (BBKSDA 209).
Pada
Tahun 190 terbit Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.284 Tahun 190 tentang
Penyesuaian status pengelolan menjadi pengusahan dan tidak berlakunya S.K.
Dirjen Kehutanan No. 13 Tahun 1980 oleh Perhutani. Pada Tahun 202 terbit Surat
keputusan Direksi PT. Perhutani No. 06 tahun 202 tentang penyerahan pengelolan
TWA Gunung Tangkuban Parahu kepada PT. PALAWI dan Cagar Alam ke Balai Besar
Konservasi Sumber Daya Alam. Pada Tahun 207 terbit Surat keputusan Menteri
Kehutanan No.206 Tahun 207 tentang Penyerahan Pengelolan TWA Gunung Tangkuban
Parahu dan Cagar Alam kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam. Pada
tahun 209 pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu diserahkan kepada PT. Graha
Rani Putra Persada selama 30 tahun melalui Surat Keputusan No. 306/Menhut-I/209
tentang Konsesi Pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu (BBKSDA 209).
B.
Letak,
Luas Dan Aksesibiltas
Secara
geografis, kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu terletak antara 6040’-6 050’
Lintang Selatan dan 107030’–107040’ Bujur Timur. Secara administrasi
pemerintahan, TWA Gunung Tangkuban Parahu temasuk dalam Kecamatan Sagalaherang,
Kabupaten Subang dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa
Barat (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209).
Berdasarkan
Keputusan Menteri Pertanian No.528/Kpts/Um/9/1974 tangal 3 september 1974, luas
TWA Gunung Tangkuban Parahu adalah 370 Ha dengan batas wilayah sebagai berikut
:
a.
Sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Cagar Alam
Gunung Tangkuban Parahu;
b.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Hutan Lindung dan Perkebunan
PTPN VII Ciater;
c.
Sebelah Barat berbatasan dengan Hutan Lindung.
C.
Iklim
dan Hidrologi
Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu berdasarkan klasifikasi
Scmhidt Ferguson mempunyai iklim Tipe B dengan curah hujan berkisar antara
200–300 mm per tahun. Temperatur udara dikawasan ini berkisar antara 150C–290C
dan kelembaban udara rata-rata 45% - 97% (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209).
Sumber mata air di kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu berasal dari
D.
Iklim
dan Hidrologi
Kawasan Taman
Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu berdasarkan klasifikasi Scmhidt Ferguson
mempunyai iklim Tipe B dengan curah hujan berkisar antara 200–300 mm per tahun.
Temperatur udara dikawasan ini berkisar antara 150C–290C dan kelembaban udara
rata-rata 45% - 97% (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209). Sumber mata air di
kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu berasal dari Mata Air Cikahuripan.
A.
Kawah
Ratu
Jika Anda
datang menggunakan bus, tersedia tempat parkir khusus bus sebelum mencapai
Kawah Ratu. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil ELF yang akan mengantarkan Anda
ke Kawah Ratu. Tetapi, jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat
terus menggunakannya sampai ke Kawah Ratu. Tersedia tempat parkir kendaraan di
seberang kawah ini, sehingga tanpa melalui medan yang sulit dan menghabiskan
banyak energi, Anda dapat melihat kawah ini. Mungkin ini juga menjadi salah
satu alasan, kebanyakan pengunjung ada di kawah ini.
Kawah Ratu
langsung terlihat dari atas dengan pembatas pagar kayu untuk mencegah pengunjung
terjatuh. Melihat dalamnya kawah, dinding-dinding kawah dan asap yang masih
keluar dari kawah ini menciptakan pemandangan yang menggetarkan hati. Tanah di
sekitar Kawah Ratu umumnya berwarna putih dengan beberapa batu belerang
berwarna kuning. Batu-batuan dan suasana kering dan gersang terasa di kawah
ini. Anda dapat mencoba mendaki ke daerah yang lebih tinggi jika ingin melihat
kawasan Kawah Ratu secara menyeluruh.
Di tempat ini
banyak toko-toko sederhana yang menjual berbagai souvenir seperti syal, topi
kupluk, tas dan topi bulu, berbagai pajangan dari kayu dan berbagai aksesories
lainnya. Ada juga penjual makanan dan minuman hangat seperti mie rebus, bandrek
dan lainnya. Anda juga dapat menunggang kuda untuk mengitari sebagian kawah
ini. Kegiatan ini biasanya disukai anak-anak.
B.
Kawah
Upas
Kawah Upas
terletak di sebelah Kawah Ratu. Tetapi, untuk dapat melihat kawah ini harus
melalui medan yang berbahaya, Anda harus melewati jalan yang berpasir untuk
mencapai kawah ini. Maka, sangat jarang pengunjung yang datang melihat kawah
ini. Bentuk Kawah Upas berbeda dengan Kawah Ratu. Kawah Upas lebih dangkal dan
mendatar.
C.
Kawah
Domas
Kawah Domas
terletak lebih bawah daripada Kawah Ratu. Jika Anda dating melalui jalan baru,
Anda akan menemukan pintu gerbang menuju Kawah Domas terlebih dahulu sebelum
menuju Kawah Ratu. Jika pada Kawah Ratu Anda hanya akan melihat kawah dari
kejauhan, pada Kawah Domas, Anda dapat lebih dekat dengan kawah. Bahkan, Anda
dapat mencoba merebus telur dengan memasukkannya ke dalam kawah. Jika Anda
ingin melihat Kawah Domas melewati jam 16.00 WIB, Anda diharuskan menggunakan
jasa pemandu wisata.
D.
Manarasa
Pohon yang
banyak terlihat di sekitar kawah adalah pohon yang disebut oleh warga sekitar
dengan nama Manarasa. Daun tanaman ini akan berwarna kemerah-merahan jika
daun sudah tua. Daun yang sudah berwarna merah dapat dimakan dengan rasa mirip
seperti daun jambu dengan sedikit rasa asam. Daun ini dapat mengobati diare dan
dipercaya akan membuat awet muda. Mungkin daun ini dipercaya oleh masyarakat
sekitar selalu dimakan oleh Dayang Sumbi yang awet muda dalam legenda
terjadinya Gunung Tangkuban Perahu.
