Senin, 29 September 2014

gunung tangkuban perahu



DAFTAR ISI



A.      Latar Belakang

            Sumberdaya alam merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumberdaya alam mempunyai peranan penting bagi kebutuhan masyarakat, karena hutan memberi manfat baik berupa produk hasil hutan yang nyata (tangible) seperti kayu dan rotan, maupun produk hasil hutan yang tidak nyata (intangible) antara lain pengaturan tata air dan wisata alam, (Darusman et al 1982).
                        Pariwisata kini menjadi salah satu sektor yang diandalkan oleh pemerintah untuk dikembangkan sebagai upaya meningkatkan devisa negara dan mencari terobosan di sektor non migas. Sektor pariwisata, Indonesia cukup potensial karena mempunyai kekayaan obyek wisata dengan berbagai jenisnya serta ditunjang oleh keindahan alam dan keanekaragaman budaya. berbagai potensi yang disajikan pada kawasan taman wisata alam di Indonesia merupakan pemikat para wisatawan dalam dan luar negeri.
            Taman wisata alam menurut Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservai Sumber Daya Alam hayati dan Ekositemnya adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.  Gunung tangkuban perahu merupakan tempat terselengarakannya kegiatan wisata. potensi wisata yang ada di lokasi tersebut merupakan daya tarik tersendiri dibandingkan tempat wisata lainnya di jawa barat. Tampilan yang disuguhkan berupa kawah belerang sebagai ciri khas tersendiri.

B.       Tujuan

Mengidentifikasi Potensi Wisata di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu


A.      Sejarah dan Status Kawasan

            Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu telah dikunjungi wisatawan sejak 1713. Pengelolan Wisata Gunung Tangkuban Parahu pertama kali ditangani oleh perkumpulan swata Belanda Vereneging Bandoeng Voruit. Pada tahun 1927 perkumpulan ini membuat jalan dari kaki gunung menuju kawah. Pada tahun 1950, perkumpulan swasta Belanda Vereneging Bandoeng Voruit berubah nama menjadi Perhimpunan Bandung Permai, dan pada 1974 berubah nama lagi menjadi Yayasan Bandung Permai. Sejak sat itu Yayasan Bandung Permai mengusahakan sebagian dari kawasan hutan tutupan Gunung Tangkuban Parahu sebagai objek wisata. Untuk optimalisasi dan pengembangan pengusahan wisata kawasan hutan tutupan Gunung Tangkuban Parahu, Yayasan Bandung Permai bekerja sama dengan PT. Sari Ekspres membentuk PT. Permai Sari pada tahun 1974 (BBKSDA 209).
            Pada tahun yang sama, kompleks hutan tutupan Gunung Tangkuban Parahu ditunjuk sebagai Taman Wisata Alam seluas 370 ha dan Cagar Alam seluas 1.290 ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.528/Kpts/Um/9/1974 tangal 3 September 1974. Sebagai upaya meningkatkan pengembangan fungsi kawasan Taman Wisata Alam Kawah Gunung Tangkuban Parahu, berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 13/Kpts/DJ/I/1980 tangal 14 Juli 1980, pengelolan kawasan hutan wisata ini diserahkan kepada Perum Perhutani. Pada tahun 1989 terbit Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 687/Kpts-I/1989 tangal 15 Nopember 1989 tentang Pengusahan Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Laut yang kemudian dilakukan penyesuaian penyerahan pengelolan menjadi Hak Pengeusahan Hutan Wisata (BBKSDA 209).
            Pada Tahun 190 terbit Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.284 Tahun 190 tentang Penyesuaian status pengelolan menjadi pengusahan dan tidak berlakunya S.K. Dirjen Kehutanan No. 13 Tahun 1980 oleh Perhutani. Pada Tahun 202 terbit Surat keputusan Direksi PT. Perhutani No. 06 tahun 202 tentang penyerahan pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu kepada PT. PALAWI dan Cagar Alam ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam. Pada Tahun 207 terbit Surat keputusan Menteri Kehutanan No.206 Tahun 207 tentang Penyerahan Pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu dan Cagar Alam kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam. Pada tahun 209 pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu diserahkan kepada PT. Graha Rani Putra Persada selama 30 tahun melalui Surat Keputusan No. 306/Menhut-I/209 tentang Konsesi Pengelolan TWA Gunung Tangkuban Parahu (BBKSDA 209).

B.       Letak, Luas Dan Aksesibiltas

            Secara geografis, kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu terletak antara 6040’-6 050’ Lintang Selatan dan 107030’–107040’ Bujur Timur. Secara administrasi pemerintahan, TWA Gunung Tangkuban Parahu temasuk dalam Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209).
            Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.528/Kpts/Um/9/1974 tangal 3 september 1974, luas TWA Gunung Tangkuban Parahu adalah 370 Ha dengan batas wilayah sebagai berikut :
a.         Sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Cagar Alam Gunung Tangkuban Parahu;
b.        Sebelah Selatan berbatasan dengan Hutan Lindung dan Perkebunan PTPN VII Ciater;
c.         Sebelah Barat berbatasan dengan Hutan Lindung.

C.      Iklim dan Hidrologi

Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu berdasarkan klasifikasi Scmhidt Ferguson mempunyai iklim Tipe B dengan curah hujan berkisar antara 200–300 mm per tahun. Temperatur udara dikawasan ini berkisar antara 150C–290C dan kelembaban udara rata-rata 45% - 97% (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209). Sumber mata air di kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu berasal dari

D.      Iklim dan Hidrologi

            Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu berdasarkan klasifikasi Scmhidt Ferguson mempunyai iklim Tipe B dengan curah hujan berkisar antara 200–300 mm per tahun. Temperatur udara dikawasan ini berkisar antara 150C–290C dan kelembaban udara rata-rata 45% - 97% (Handhadari 205 dalam Nugrahaeni 209). Sumber mata air di kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu berasal dari Mata Air Cikahuripan.



A.      Kawah Ratu

            Jika Anda datang menggunakan bus, tersedia tempat parkir khusus bus sebelum mencapai Kawah Ratu. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil ELF yang akan mengantarkan Anda ke Kawah Ratu. Tetapi, jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat terus menggunakannya sampai ke Kawah Ratu. Tersedia tempat parkir kendaraan di seberang kawah ini, sehingga tanpa melalui medan yang sulit dan menghabiskan banyak energi, Anda dapat melihat kawah ini. Mungkin ini juga menjadi salah satu alasan, kebanyakan pengunjung ada di kawah ini.
            Kawah Ratu langsung terlihat dari atas dengan pembatas pagar kayu untuk mencegah pengunjung terjatuh. Melihat dalamnya kawah, dinding-dinding kawah dan asap yang masih keluar dari kawah ini menciptakan pemandangan yang menggetarkan hati. Tanah di sekitar Kawah Ratu umumnya berwarna putih dengan beberapa batu belerang berwarna kuning. Batu-batuan dan suasana kering dan gersang terasa di kawah ini. Anda dapat mencoba mendaki ke daerah yang lebih tinggi jika ingin melihat kawasan Kawah Ratu secara menyeluruh.
            Di tempat ini banyak toko-toko sederhana yang menjual berbagai souvenir seperti syal, topi kupluk, tas dan topi bulu, berbagai pajangan dari kayu dan berbagai aksesories lainnya. Ada juga penjual makanan dan minuman hangat seperti mie rebus, bandrek dan lainnya. Anda juga dapat menunggang kuda untuk mengitari sebagian kawah ini. Kegiatan ini biasanya disukai anak-anak.

B.       Kawah Upas

            Kawah Upas terletak di sebelah Kawah Ratu. Tetapi, untuk dapat melihat kawah ini harus melalui medan yang berbahaya, Anda harus melewati jalan yang berpasir untuk mencapai kawah ini. Maka, sangat jarang pengunjung yang datang melihat kawah ini. Bentuk Kawah Upas berbeda dengan Kawah Ratu. Kawah Upas lebih dangkal dan mendatar.

C.      Kawah Domas

            Kawah Domas terletak lebih bawah daripada Kawah Ratu. Jika Anda dating melalui jalan baru, Anda akan menemukan pintu gerbang menuju Kawah Domas terlebih dahulu sebelum menuju Kawah Ratu. Jika pada Kawah Ratu Anda hanya akan melihat kawah dari kejauhan, pada Kawah Domas, Anda dapat lebih dekat dengan kawah. Bahkan, Anda dapat mencoba merebus telur dengan memasukkannya ke dalam kawah. Jika Anda ingin melihat Kawah Domas melewati jam 16.00 WIB, Anda diharuskan menggunakan jasa pemandu wisata.

D.      Manarasa

            Pohon yang banyak terlihat di sekitar kawah adalah pohon yang disebut oleh warga sekitar dengan nama Manarasa. Daun tanaman ini akan berwarna kemerah-merahan jika daun sudah tua. Daun yang sudah berwarna merah dapat dimakan dengan rasa mirip seperti daun jambu dengan sedikit rasa asam. Daun ini dapat mengobati diare dan dipercaya akan membuat awet muda. Mungkin daun ini dipercaya oleh masyarakat sekitar selalu dimakan oleh Dayang Sumbi yang awet muda dalam legenda terjadinya Gunung Tangkuban Perahu.

contoh gambar salah satu kawah yang ada di TWA Gn tangkuban parahu